BEM VS DPM

Sebetulnya setiap kali ada kesempatan sy ingin sekali menulis.. Beberapa topik untuk sy tulis di home sudah ada di fikiran sy dan tinggal dituangkan saja, begitupun untuk diarynya. Tapi ya itu, kesempatan sepertinya harus dicuri dari waktu yang lebih perlu difungsikan untuk yang lain. Seharian aktivitas (kuliah, organisasi, kepanitiaan, sponsorship, dsb) dan sampe kosan biasanya udah malem (maks jam 21.00). Mau nulis di kosan udah cape duluan, ditambah laptop vaio sy lg ga ada (untuk yang ini, sy ga mau jadikan alasan). heu.. Akhirnya, numpuk terus-menerus di fikiran sy setiap apa yg mau sy tulis tapi ga jadi berkali-kali. hehe.. Perlahan aja sy tulis ya. Nikmatnya kelapangan waktu jangan disepelekan loh ya..^_^


Akhirnya.. LPJ (Laporan Pertanggungjawaban)  Lembaga Kemahasiswaan Faperta (A) 70% selesai. Fiuh. Alhamdulillah.. Sy ucapkan terimakasih atas kerjasamanya untuk temen-temen BEM A, HMA, Himasita, Himaskap, HMIT, FKRD, juga temen2 sy di DPM khususnya BPH (ketua dan sekertaris DPM A) dan temen-temen di divisi internal/komisi 1. Perjuangan belum selesai, sebentar lagi kita kembali akan disibukkan untuk bikin LPJ 100% LK A. Semangattt.. =)

Sy sedikit ingin berbagi pengalaman sy ketika menjadi seorang BEM'ers dan DPM'ers. BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) di IPB terbagi atas BEM KM, BEM Diploma, BEM TPB, dan BEM Fakultas (Fakultas di IPB ada sembilan, dan diberi simbol dari A - I). Tingkat pertama sy di IPB, organisasi utama sy di BEM TPB (Tingkat Persiapan Bersama). Sy dulu sebagai staff divisi PSDM (Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa) yang katanya divisi paling menentukan untuk menjaga integritas sebuah organisasi. Sy rasakan memang demikian. Sembilan orang anggota PSDM sudah seperti saudara sy sendiri sampai detik ini dan sy harap selamanya.^^ Kinerja BEM diawasi oleh DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa) sebagai badan legislatif. Ketika sy menjadi anggota BEM, sy merasakan lelah dan perlunya pengorbanan baik materi, waktu maupun tenaga. Proker (program kerja) harus berjalan dengan dana minim, dan berbagai kendala lainnya. Betul-betul rapat hampir setiap hari setiap malam, itu jadi rutinitas sy untuk mengkonsep setiap proker berjalan maksimal. Sudut pandang sy ketika menjadi BEM'ers, sy merasa DPM ga ada kerjanya, hanya bisa mengawasi dan mengatur. Bahkan ga jarang membuat deadline yang sangat ketat. Kerja rodi pokonya. hehey..

Tingkat dua di IPB, sy sudah masuk ke jurusan sy di Agronomi dan Hortikultura, Faperta. Selanjutnya sy mendapat tawaran menjadi bendahara umum BEM A (BEM Fakultas Pertanian). Sebuah tanggungjawab yang tidak mudah, tapi akhirnya sy terima. Disini tantangan  lebih berat lagi. Sebagai BPH (Badan Pengurus Harian), sy merasakan sulitnya mengkoordinasikan divisi-divisi di bawahnya. Pengalaman sy saat memimpin rapat, ternyata temen-temen di divisi itu tidak cukup diberi info yang sama sekali, tapi harus berkali-kali baru bisa betul-betul mengerti. Sy juga harus sabar nunggu laporan keuangan dari divisi yang sering terlambat. Sy agak tertekan juga, karena bendahara yang satunya ga aktif, alasannya karena ada masalah internal. Praktis, satu tahun kepengurusan BEM A 2008-2009 sy jadi bendahara tunggal. Sy merasa agak tertekan saat harus menyelesaikan semua laporan keuangan dan ngerakap semua cashflow keuangan organisasi sendirian. Apalagi saat harus benar-benar bersabar saat deadline yg sy kasih ke bendiv ngaret yang dampaknya sy kena semprot dari DPM. huhu. Alhamdulillah, semua sudah berlalu. Tantangan itu sudah sy coba, dan berhasil.. Hidup BEM Faperta Bersatu! =)

Memasuki tingkat tiga, sy dilema. Jujur, saat itu sy sudah memutuskan untuk tidak ikut organisasi manapun lagi. Tapi sy bingung karena kondisinya menuntrut sy harus terjun lagi ke organisasi. Finally.. sy ditawari tiga posisi yang sama (sebagai bendahara) di tiga organisasi yang berbeda. Sy ditawari oleh BEM A, DPM A, dan BEM KM. Jika sy beracuan pada peta hidup sy, tahun ketiga seharusnya sy pilih BEM KM (BEM pusat di IPB.red). Tapi karena sy merasa Faperta lebih harus mendapat perhatian, akhirnya sy pilih organisasi di fakultas lagi. Kembali sy dilema memilih antara BEM dan DPM. Berbagai pertimbangan menyergap fikiran sy. Akhirnya sy putuskan memilih DPM. Tajuan utamanya adalah untuk menyeimbangkan fikiran sy agar tidak melulu berfikir dari sudut pandang seorang BEM'ers. Sy pun ingin mencoba berfikir dari sudurt pandang DPM'ers. Berfikir dari dua sudut pandang adalah hal yang penting untuk bisa saling mengerti posisi satu sama lain.


Ternyata...
Berbeda sekali dengan paradigma sy sebelumnya yg menganggap bahwa DPM ga kerja. hoho... kalau BEM kerjanya keliatan di depan layar, kalau DPM kerjanya dibelakang layar.. Cobalah bandingkan. DPM malah lebih menuntut keterampilan manajemen. Ketika waktu di BEM hanya berkoordinasi dengan bendiv-bendiv BEM saja, nah di DPM harus berkoordinasi dengan bendiv pusat juga berkoordinasi dengan bendiv setiap organisasi di fakultas. Begitu. Seorang DPM memang fungsinya mengatur dan mengawasi juga membuat aturan. Kami lebih banyak diperas fikirannya daripada tenaganya seperti BEM. Jika BEM berjalan untuk dirinya sendiri saja, DPM harus mengawasi organisasi yang lain selain dirinya. DPM A mengawasi Himasita, HMA, BEM, Himaskap, HMIT, dan FKRD. Dulu waktu jadi bendum BEM, sy hanya mengatur keuangan BEM saja, tapi sekarang sebagai DPM sy harus mengatur seluruh keuangan LK Faperta dan sy harus amanah untuk megang uang LK A puluhan juta rupiah (diatas tiga puluh juta untuk termin pertama. heu). Bukan jumlah yang sedikit bukan? Itu tantangan, pengalaman, dan tentu saja proses pembelajaran. Mandat dari DPM KM secara struktural disampaikan kepada DPM fakultas, lalu mandat tersebut harus segera disampaikan pada BEM dan himpunan mahasiswa lainnya untuk dilaksanakan. Sudah biasa jika DPM dicela dan dianggap seenaknya mengatur atau memberi deadline singkat. Padahal kan itu aturan dari atas. Kita hanya menyampaikan, agar organisasinya transparan dan rapi. DPM juga berhubungan up-down. maksudnya, DPM berhubungan dengan atasannya (DPM KM) juga bawahannya (organisasi di fakultas) dan semuanya harus berjalan sinergis. Satu saja yang melenceng maka akan berdampak pada semua LK di IPB. Mereka mungkin ga tau, DPM yg stres kalau LPJ salah satu LK saja belum masuk. Meluangkan waktu dari pagi sampai malam, hanya untuk mengarahkan semuanya dan menunggu laporan pertnaggungjawaban masuk. Fiuh.. Sy ga kebayang stresnya anak-anak DPM KM (terutama mba Nayla sebagai bendum DPM KM) untuk mengorganisasikan semua LK di IPB termasuk BEM KM. It's not a simple thing..Maka dari itu, sy mohon maaf jika kami sebagai DPM belum bisa bekerja maksimal.. mohon dimaklumi ya..

So, sy cuma mau bilang bahwa dimanapun kita berada jangan pernah menyepelekan apapun. Setiap bagian ada fungsinya. Masuklah dunianya maka kamu akan rasakan sendiri.. Jangan pernah berfikir egois hanya dengan berfikir dari satu sisi saja.. Koin aja ada dua sisi toh? ^_^

8 Response to "BEM VS DPM"

lani@lani@lani said...

iseng-iseng berhadiah nih mba..
belajar dari pengalaman orang lain yang udah cukup banyak bekalnya.. hehehe...
saya maba di Faperta Univ.Jenderal Soedirman,
tekad saya besar buat ikut gabung di BEM Fakultas,, tapi gimana baiknya cara saya mulainya ya mba??
bagi pengalamannya dong mba, dulu mba mulai seleksi (proses masuk BEM) gimana..
email ya mba
lani.lani1009@yahoo.com

dinicanidria said...

Hemm,,sy jg masih belajar kok...^_^
Sy kurang paham seleksi disana seperti apa mekanismenya. Tapi nanti sy coba kirim email ke Lani yak... Cek aja emailnya. ^_^

indri handayani said...

mbaa, aku juga pengen dong dikasih tau proses seleksi bem disana:0 sekedar gambaran mba hehehe
kalau mba ga keberatan tolong hubungi akudi email ya:)))
indrihandayani13@gmail.com

prisilia may agustina said...

wah keren ya pengalamannya. kalau disuruh milih mending terjun kemana ya mba? bem, dpm, atau himit? alasannya? boleh deh kirim ke email saya. syukron ^^

Othy Deflores said...

mbak saya juga minta solusinya gimana cara mulainya atau persiapaanya masuk BEM atau DPM .. mksih mbak ditunggu ilmunya mbak

Teddy Parker said...

Kalo diliat dari pengalaman kakak diatas, kayak nya cukup berat menjadi seorang anggota BEM dan DPM. Tapi ada beberapa hal yang buat saya cukup tertarik dengan BEM & DPM. Kalau boleh kak, bagi2 dong dikit ilmunya...
Email disini ya kak : pteddy76@gmail.com.
Terima kasih..

AWAN said...

Alur keuangan berarti dari kampus kemudian diolah DPM kemudian didistribusikan ke BEM ya?

Yayang Ridha Nanda Suryo said...

Di fakultas saya sudah Open recruitment ormawa, saya ingin daftar, cuma masih bimbang untuk memilih hima/dpm/bem. Klo boleh share pengalaman kakak dan bagaimana mekanismenya ke Email yayangsuryo4798@gmail.com Terima kasih kak

Post a Comment